Overdiagnosis daripada Kecolongan

Kompas.com - 13/03/2010, 11:57 WIB

Kompas.com - Kerap terjadi, pasien datang ke dokter semasa gejala penyakitnya masih belum muncul lengkap (full blown). Umumnya setelah diberi obat, keluhan mereda. Mereka jadi merasa tidak sabar, lalu pindah ke dokter lain.

Tentu saja dengan berjalannya waktu, penyakit sudah lebih berkembang. Dokter yang kemudian memeriksa bisa menemukan dan melihat gambaran penyakit lebih lengkap. Bisa jadi dokter yang memeriksa kemudian lebih besar kemungkinan tepat mendiagnosisnya. Yang tampak bukan hanya daun sebuah pohon, melainkan sudah kelihatan ranting, dahan, bahkan mungkin terlihat buahnya.

Kalau seperti itu yang terjadi, apa berarti dokter yang pertama memeriksa lebih "bodoh" dari dokter yang memeriksa belakangan? Tentu saja tidak. Siapa pun  dokternya, kalau gejala dan tanda penyakit belum bulat utuh, penyakit belum bisa tepat  didiagnosis.

Karena saking seringnya dokter kecolongan mendiagnosis, khususnya DBD dan tifus, dokter cenderung melakukan diagnosis (working diagnosis) berlebihan (overdiagnosis). Artinya, mendiagnosis penyakit yang belum tentu benar bakal terjadi. Daripada kecolongan, mending berlebihan diagnosisnya.

Padahal, kalau overdiagnosis yang terjadi, yang dirugikan pihak pasien. Mungkin pasien diberi obat yang sebetulnya tidak diperlukan. Bukan saja kerugian ekonomi, melainkan juga tubuh harus memikul efek samping obat yang sebetulnya tidak perlu ada.

Sekali lagi, dengan memahami kondisi yang dokter hadapi dalam hal mendiagnosis hendaknya membuat masyarakat lebih bijak dalam menyikapi diagnosis  dokter. Bahwa tidak selalu mudah untuk setiap kondisi, setiap pasien datang, diagnosis  ditegakkan.

Dalam praktik, tidak mungkin dokter hanya mau menerima pasien yang gejala dan tanda penyakitnya sudah lengkap bulat utuh saja. Pasien bebas datang ke dokter kapan saja, tanpa boleh diseleksi hanya yang penyakitnya sudah berkembang parah saja.

Kebanyakan pasien berkecukupan sudah datang ke dokter ketika gejala dan tanda penyakitnya masih amat minimal. Dokter sering menghadapi kesulitan terhadap pasien kelompok ini.

Sebaliknya, pasien tak mampu justru baru datang ketika penyakitnya sudah parah, kala gejala dan tanda penyakitnya sudah lengkap "pohon", bukan baru daun atau rantingnya belaka.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau